Senin, 06 September 2010

TENTANG ANGIN DALAM RUANG BISU

Memandang gelap dari jendela kayu.
Semilir angin malam selalu hadir menjadi tamu.
Menyelinap masuk tanpa pernah mengetuk pintu.
Seperti biasa aku jamu dengan wajah semu.
Slalu hadir menghidangkan rindu mengisi kalbu.

Anginpun berkata-kata dalam diamnya.
Menceritakan kisahnya berkelana mengembara.
Benar saja,karena semuanya hanya tentang rindu.

Angin malam mendesah menahan resah.
Membisikan gumaman kata tak tentu arah.
Ceritakan tentang rindu di penghujung malam.
Seperti dirinya yang akan pergi tanpa memberikan suatu arti.
Dan anginpun berlalu tinggalkan aku di ruang bisu.

Rabu, 01 September 2010

RINDU TAK MENEPI

Mengarungi waktu yang akan berlabuh pada
dermaga malam.
Sejenak rasa melayang pada lapas yang telah ada,manakala mentari memberikan senyum manisnya.
Pesta tanpa jamuan yang tlah berakhir pagi tadi meninggalkan embun tanpa sempat berjanji.
Hanya tersisa butir-butir air yang basah pada daun di sela hati.
Memenuhi relung kosong yang tak sempat di isi oleh nadi.
Ikuti perjalanan hari bersama mentari pada kaki yang tak pernah henti.
Tetap berdiri meski sepi menghampiri di ujung makna tanpa pernah menyadari.
Dan tangan mencoba menggapai setitik asa;
Pada debu-debu yang berlalu-lalang di persimpangan jalan.
Mungkin akan menempel satu atau dua bayang tentang dirimu.
Atau hanya gambaran semu tanpa sosok yang pudar saat angin menidurkan awan.


Pada debu yang tersapu hujan tak lagi menempelkan bayang.
Kenangan melayang di terbangkan angin,menuju mega menata ruang agar bayang tak berpaling.
Siluet warna bergambar noktah memberi pesan dari nyanyian rindu saat jiwa melepas rasa pada keinginan yang terpendam.
Terkubur dalam tanah berwujud rindu,tumbuh menjadi akar yang merambat pada melati di taman harapan.
Aroma yang mewangi seperti melupakan bau debu dan menelantarkan rasa di ujung penantian.

Perjalanan pun terhenti saat jarum berdetak dua belas kali.
Lonceng berdenting dalam bisu saat kata tak lagi terucap.
Hanya dawai bersama nyanyian hujan temani malam yang ditinggalkan rembulan.
Pada pesta dengan menu kemewahan di malam yang kian sepi.
Kuteriakan sepenggal nama seperti dalam jeritan belenggu malam.
Akan rindu yang tak pernah usai.
Kedatangannya menghadiahkan gelisah pada hati tak pernah henti.
Walau tangan tak lagi menepi,rindu telah sampai ke hati.
Dan kini tertidur bersama hujan yang tak henti bernyanyi.

Senin, 23 Agustus 2010

MENYINGKAP TIRAI KERINDUAN

Tak ada atap untuk berteduh.
Rindu ini seakan menghujani jiwaku.
Hingga aku kuyup dihati lusuh.
Membasahi disetiap lekukan ragaku.

Awan perlahan menggumpal di angkasa.
Bertanya lirih pada isi jagat raya.
Limbung degan angan terbayang.
Menerpa sukma di puncak gunung.

Sejauh mata memandang.
Sejauh angan mengenang.
Tak ada lagi yang hadir.
Selain wajah itu yang bersilir.

Tak akan lepas paras tersayang.
Liuk tarian memikat garang.
Menelusup diantara palung rindu.
Lekat membekas paras mendayu.

Jangan kau tanyakan kenapa aku semakin lemah.
Pada waktu pun aku telah pasrah.
Mencoba menyingkap tirai-tirai kerinduan.
Yang menjelma begitu indah dalam peraduan.

Sabtu, 21 Agustus 2010

MEMBINGKAI LENGKUNG PELANGI

Dari lengkung pelangi sisa tangisan langit tadi siang.
Ku ukir sketsa dari kaca dibalik tirai.
Melukis gundah pada sepi tatapannya menerawang.
Di kamar menanti Ia kembali.

Parasnya membekas pada punggung pelangi.
Kadang terhalang dedaunan ketika ranting bergoyang.
Samar-samar tatapanku akan menghampiri.
Melangkah jauh dari pohon berdaun rindang.

Langit sepi tanpa sinar mentari.
Barisan awan berarak diam termangu.
Coba menyingkap tabir dihati yang sunyi.
Menunggu,sampai angin berlalu.

Hanya sekejap tabir terungkap.
Warna-warni pelangi terpancar begitu mesra.
Dari binar bola mata yang menatap.
Pada bingkai pelangi dibalik kaca.